Bulir bulir nafasku menyentuh lapisan kulitmu.
Membisikan lantunan indah tentang arti pengorbanan. Kau mungkin tak mendengar suara parau itu. Tak apa jadinya.
-stasiun kutoarjo 6 Juni 2013-
Saya hanya anak manusia yang terlahir di dunia, tempat di mana Adam dan Hawa di buang dari Surga.
Jumat, 21 Maret 2014
Puisi "dee"
Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak dan bayangan
Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang
antara duka mencintai dan bahagia terdera
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi
bersiap diri untuk selamanya lelap
Andai kau sadar arti pelitamu
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita satu
Andai kau tahu.
-dee-
Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang
antara duka mencintai dan bahagia terdera
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi
bersiap diri untuk selamanya lelap
Andai kau sadar arti pelitamu
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita satu
Andai kau tahu.
-dee-
Kamis, 20 Maret 2014
Coretan Kita "Puisi di jam Kuliah"
Naskah Monolog "Perempuan Gila"
Ini adalah naskah monolog "Perempuan Gila" karya Chaerul Ashar Hamid yang saya bawakan saat study banding di UPI.
(Monolog) Perempuan gila
(Chaerul Ashar Hamid)
Naskah ini
terinspirasi dari :
-
Drama Monolog “Tolong” karya Nano Riantiarno
-
Cerpen “Tragis” Karya Chaerul Ashar Hamid @www.sastrahitamputih.blogspot.com
(panggug
dalam keadaan terang.)
(seseorang
masuk ke panggung)
(bertingkah
orang gila, cerita sana sini tak karuan=ngalor ngidul.)
(Spot Light
di sudut panggung menyala, Spot Light ini akan terus berpindah lokasi untuk
Spot Light berikutnya. Jatuhnya cahaya tidak selalu di tempat yang sama.)
“siapa di
sana...???”
“kau
lagi...???”
“sejak kapan
kau ada di sana...???”
“hhahahahahaha...”
(suara
keramaian kota, deru mobil, klakson kendaraan, dan sirene.)
(ketakutan.)
(orang lain
berseru...)
Selasa, 11 Maret 2014
Kamis, 27 Februari 2014
Astronot Amerika
24 Februari
2014, 22.00 WIB
Seorang teman
bercerita kepadaku kisah seorang astronot Amerika.
Begini
ceritanya,
Seorang
ilmuan bermimpi menjadi astronot. Ia pun berusaha keras ikut sleksi melawan
puluhan ribu orang lainnya. Dia sudah memutuskan hidupnya untuk meraih mimpinya
itu. Melakukan persiapan bertahun-tahun dengan sangat keras lebih dari yang
lainnya. Hingga akhirnya tersisa dua orang peserta, namun hanya satu orang yang
akan pergi ke luar angkasa. Ilmuan itu pun gagal. Dia sangat sedih, kecewa, depresi,
sampai ingin mati dan berpikir menyalahkan Tuhan. Seminggu berikutnya adalah
hari keberangkatan pemenang ke luar angkasa, sesuatu yang tak ingin ia lihat.
Lima menit setelah lepas landas pesawat itu pun meledak dan hancur lebur.
Trimakasih teman, kau
membantuku dengan kisah yang kau ceritakan padaku, sesuatu yang sangat ingin
kita miliki atau yang sangat ingin kita dapatkan. Belum tentu hal yang terbaik
buat kita. Sudah jalannya seperti itu. Tuhan telah mengatur yang terbaik untuk
kita. Aku percaya itu. Tetap optimis dan total. Hidup itu indah. Nikmatilah
setiap lika liku kehidupan.
Katamu teman, All is well :D
Jumat, 31 Januari 2014
Cerpen Sama tapi Beda (menceritakan diri sendiri lewat cerpen)
Saat disuruh bercerita tentang diri sendiri, saya mengeksprikannya dalam sebuah cerpen agar terlihat unik. Inilah cara saya bercerita mengenai diri saya. :D
SAMA
TAPI BEDA
Karya: Ulfa Aulia
“Hai,
sedang apa kau? lembut sekali tanganmu, mengapa kau membangunkannya dengan
pelan? Apa kau tahu siapa yang sedang kau bangunkan itu?” tanya ku heran dengan
posisi tertidur memeluk guling menghadap kanan dan kiri.
“
Aku tahu siapa yang sedang ku bangunkan.” jawabnya dengan lemah lembut
“Apakah
kau mau mendengarkan ceritaku tentang seorang anak? ”
“Tentu
saja… ayo mulai bercerita! ” jawabnya.
Aku mulai bercerita, “Aku seringkali kesal,
setiap kali anak ini membuat kesalahan, kesalahannya membuatku malu untuk
mengakuinya, tapi aku harus terima kenyataan. Anak itu sangat menjengkelkan
ketika aku menghendaki ini, dia menghendaki itu, dan ketika aku menghendaki
itu, dia menghendaki ini. Aku dan dia tidak pernah sepaham, kami seperti Tom and Jerry yang tak mungkin disatukan. Kadang aku lelah dengan kelakuan dia
yang diluar dugaan. Memang segala sesuatu itu kadang tak terduga, tapi apa
boleh buat aku hanya bisa gigit jari.”
“Ternyata
anak itu bandel juga ya ternyata,” begitu
tanggapannya. Aku pun melajutkan ceritaku.
Saat sang mentari tengah menyapaku dengan
sinar lembutnya, saat burung tengan membangunkanku dengan kicauan merdunya, dan
teriakan-teriakan tombak dari belasan raut yang berbeda-beda telah menancapkan
ujunnya di telingaku, ia tetap belum bangun. Teriakan- teriakan itu tak hanya
berbunyi satu kali, bahkan belasan kali, tapi memang dasarnya dia itu rindu
dengan suara ibu nya yang cantik, walaupun pukul 5 pagi dia sudah bangun, atau
bermacam-macam teriakan terus berdatangan mengantri untuk menyerbunya, aku yang
tak bersalah ini jadi ikut menanggung akibatnya, tetap saja ia bertahan pada
posisi nyamannya, yaitu tidur memeluk guling menghadap kanan dan kiri. Aku
sudah berusaha untuk membangunkannya,
akhirnya aku menyerah juga, dan menunggu ibu membangunkannya dengan lembut.
Dia
pun menjawab,” Cerita tadi sepertinya mirip yang aku kerjakan sekarang, dan aku juga sedang
membangunkan seorang anak.”
“Aku
pikir juga begitu, ahh… sudahlah dengarkan ceritaku lagi ya?”
Aktivitas
berjalan seperti biasa, aku selalu memperhatikan setiap tingkah lakunya, saat
dia melakukan kesalahan, aku berusaha menolongnya, tapi sayangnya dia tak
mengetahui niat baikku ini. Dia itu sering kali ceroboh, padahal aku sudah
sering memperingatkannya, kata orang
ketika ada masalah dia terlalu berlebihan memikirkan masalah tersebut, sehingga
membuat dirinya takut sendiri (duh… kasiannya). Tidak hanya itu, tingkahnya
yang kekanak-kanakan membuatku selalu mengelus dada (huh… sabar), masih banyak
lagi tentang dia misalnya saja porsi makannya itu sungguh luar biasa dahsyat,
dengan tubuh semungil dan hanya berbobot
46 kg, dia mampu menghabiskan lebih dari tiga piring dalam sehari, cckckckckck
dalam hati aku berbisik “kenapa tak buat
aku saja makanannya”. Seiring jam
berputar aku pun berputar mengitarinya, dan aku tetap setia berada di
sampingnya. Begitulah keseharianku dengan dia yang membuatku pusing
berkeliling-keliling bahkan berluas-luas.
“Baik
sekali kau tetap berada di sampingnya?”
“Bukan
begitu, aku dan kamu kan sama saja, aku lanjutkan lagi ya ceritanya!”
Aku
dibuatnya pusing jelas sering, dan aku
dibuatnya senang juga lumayan sering.
Dia dapat menghapus lelahku dengan senyum ceria dan semangat yang ia pancarkan
setiap hari, boleh di bilang dia tipe anak yang periang, dan mudah bergaul, dia
bisa membuatku tertawa atau bersedih saat ia sedang menjalankan hobi
kesukaannya yaitu menyayi, ketika ia menyayikan lagu riang dan berjoget- joget
tidak karuan, aku pun turut riang dan berjoget tidak karuan pula, tapi saat dia
menyanyikan lagu sedih, aku bahkan bisa menangis dibuatnya, tidak hanya
bernyanyi, dia juga hobi jalan-jalan,
membaca, dan nonton film. Walaupun ia begitu banyak kurangnya, aku tetap
menyayanginya.
“Apa
kau senang bersamanya?” jawabnya dengan santai
“Tentu
saja, kenapa tidak, apa yang dia lakukan, akupun melakukannya, begitu pula kau,”
jawabku langsung menyahut dan bercerita kembali.
Dia itu anak pertama dari tiga bersaudara,
jenis kelaminnya perempuan, namanya pun sangat indah yaitu Ulfa Aulia, teman-
temanya biasa memanggilnya Lia. Nama itu adalah nama yang dibuat oleh neneknya.
Lia lahir di Kebumen tanggal 21 Mei 1993, sewaktu kecil Lia sempat tinggal di
Bekasi Barat, kemudian Lia pindah ke
daerah Gombong, Kabupaten Kebumen. Anak
ini juga bersekolah di SD N 1 Panjangsari, lalu melanjutkan ke SMP N 1 Gombong,
kemudian melanjutkan lagi ke SMA N 1 Gombong, dan sekarang Lia sedang
melajutkan sekolahnya di UNY. Aku pun senang melihat perkembangannya dari saat
dia baru lahir sampai sekarang ini, dan aku akan memantaunya terus.
“Sepertinya
aku kenal anak itu!” jawabnya setelah mendengar ceritaku
“Tentunya
kau kenal, oh.. iya ada satu hal lagi yang ingin ku ceritakan padamu”
“Apa?”
jawabnya penuh tanya, dengan semangat
aku melajutkan ceritaku.
Anak
mungil itu mempunyai motto hidup yaitu LIA
PASTI BISA , anak itu menuliskan
kata kata itu di kamarnya dengan ukuran yang besar, karena dia yakin kalau mau
berusaha pasti bisa, kalau orang lain bisa, Lia juga bisa, dan yang terpenting
berani mencoba dan tidak takut salah.
“Sekarang
giliran aku yang bertanya, mengapa kamu begitu mengetahui tentang anak itu?”
tanyanya penasaran
“Tentu
saja aku tahu, kalau kamu bencerita tentang ibu, pasti kamu juga tahu”.
“Aku
jelas tahu, karena aku bayangan ibu”.
“Kalau
begitu kita sama, aku juga bayangan...”.
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
